0
News
    Home Berita Brahim Diaz Featured Piala Afrika Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Maroko

    Teori Konspirasi Panenka Brahim Diaz di Final Piala Afrika 2025: Kebetulan atau Ada yang Disengaja? - Liputan6

    6 min read

     

    Teori Konspirasi Panenka Brahim Diaz di Final Piala Afrika 2025: Kebetulan atau Ada yang Disengaja?

    Teori konspirasi mengiringi kegagalan penalti Brahim Diaz di final Piala Afrika 2025. Panenka gagal, walk-out Senegal, dan reaksi keras pun bermunculan.


    Penyerang Maroko, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi tendangan penalti di hadapan kiper Senegal #16, Edouard Mendy, pada pertandingan final Piala Afrika (CAN) antara Senegal dan Maroko di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, pada 18 Januari 2026. (SEBASTIEN BOZON / AFP)

    Liputan6.com, Jakarta - Final Piala Afrika 2025 banyak cerita termasuk teori konspirasi. Laga Senegal versus Maroko di Stadion Prince Moulay Abdallah, Senin (19/1) dini hari WIB, memicu perdebatan panjang. Bukan hanya soal hasil, tetapi juga soal keadilan.

    Senegal keluar sebagai juara setelah menang 1-0. Gol Pape Gueye pada menit ke-94 menjadi penentu. Namun, sorotan publik justru tertuju pada momen sebelum itu.

    Maroko memperoleh penalti pada injury time babak kedua. Situasi kacau terjadi setelah pemain Senegal melakukan aksi walk-out. Konsentrasi pertandingan terpecah.

    Di tengah ketegangan itu, Brahim Diaz gagal mengeksekusi penalti. Panenka yang dipilihnya dibaca dengan mudah oleh Edouard Mendy. Dari situlah teori konspirasi mulai berkembang.

    Penalti Panenka dan Kecurigaan yang Menguat

    Brahim Diaz
    Kiper Senegal, Edouard Osoque Mendy (kanan), mendekati pemain Maroko, Brahim Abdelkader Díaz, sebelum ia mengeksekusi tendangan penalti pada pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Youssef Loulidi)

    Eksekusi penalti Panenka bukan hal baru di level tertinggi. Zinedine Zidane pernah melakukannya di final Piala Dunia 2006. Namun, konteks selalu menentukan persepsi.

    Brahim Diaz berada dalam tekanan ekstrem. Maroko menunggu gelar Piala Afrika selama 50 tahun. Satu tendangan bisa mengubah sejarah.

    Karena itu, keputusan mengambil risiko dianggap tidak masuk akal. Sebagian pihak mulai bertanya-tanya. Sports Illustrated bahkan membuat laporan tentang munculnya dugaan bahwa kegagalan itu disengaja.

    Bahkan, ada teori bahwa penalti itu dibiarkan gagal demi 'keadilan' atas keputusan kontroversial wasit. Spekulasi ini cepat menyebar di media sosial dan forum sepak bola.

    Bantahan Keras dari Senegal

    Brahim Diaz, Edouard Mendy
    Penyerang Maroko bernomor punggung 10, Brahim Diaz, menendang bola dan gagal mengeksekusi penalti ke gawang kiper Senegal bernomor punggung 16, Edouard Mendy, selama pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Paul ELLIS/AFP)

    Edouard Mendy menanggapi teori tersebut dengan tegas. Ia menolak anggapan bahwa ada kesepakatan atau unsur kesengajaan.

    “Kita harus serius,” kata kiper Senegal, Mendy, kepada beIN Sports ketika teori ini diajukan kepadanya.

    “Apakah Anda benar-benar berpikir bahwa dengan satu menit tersisa dan sebuah negara yang telah menunggu 50 tahun untuk sebuah gelar, kita dapat menyepakati sesuatu?"

    “Dia ingin mencetak gol dan saya pantas mendapat pujian karena menghentikannya, itu saja," tegas mantan kiper Chelsea.

    Pembelaan Kubu Maroko

    Pelatih Maroko Walid Regragui (kanan) beradu argumen dengan pelatih Senegal Pape Thiaw (kiri) di final Piala Afrika 2025 di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Senini (19/01/2026).
    Pelatih Maroko Walid Regragui (kanan) beradu argumen dengan pelatih Senegal Pape Thiaw (kiri) di final Piala Afrika 2025 di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Senini (19/01/2026). (AP Photo/Youssef Loulidi)

    Pelatih Maroko, Walid Regragui, memilih pendekatan berbeda. Ia mengakui kualitas penalti Brahim Diaz tidak ideal. Namun, ia menyoroti faktor non-teknis.

    "Banyak waktu berlalu sebelum [Brahim] bisa mengambil penalti, dan ini membuatnya kehilangan fokus," ucap Walid Regragui kepada ESPN.

    "Pertandingan yang kami mainkan memalukan bagi Afrika," tegasnya.

    Kegagalan penalti itu akhirnya menjadi titik balik. Senegal mencetak gol di perpanjangan waktu. Teori konspirasi mungkin tak pernah terbukti, tetapi luka bagi Maroko akan lama terasa.

    Sumber: ESPN, FotMob


    Komentar
    Additional JS