Senegal Jadi Raja Afrika, Sadio Mane dkk Malah Terancam Gagal Tampil di Piala Dunia 2026 - Bolasport
BOLASPORT.COM - Selepas menjuarai Piala Afrika 2025, timnas Senegal malah dibayangi sanksi berat yang mungkin mengancam partisipasi mereka di Piala Dunia 2026.
Trofi agung yang diraih Sadio Mane dkk meninggalkan kontroversi tak kalah besar.
Kini timnas Senegal dibayangi potensi hukuman pasca-insiden yang mewarnai final Piala Afrika di Rabat, Minggu (18/1/2026).
Senegal memastikan gelar berkat gol tunggal Pape Gueye di babak tambahan waktu (94').
Sebelum laga dilanjutkan ke extra time, kerusuhan pecah di tribun suporter Senegal.
Mereka melakukan pelemparan, pengrusakan, serta berusaha merangsek ke lapangan.
Terjadi benturan antara suporter dengan pihak keamanan di area belakang gawang timnas Maroko.
Kerusuhan tersebut dipicu kemarahan fan Senegal karena keputusan kontroversial wasit Jean Jacques Ndala asal Kongo.
Pada menit-menit akhir babak kedua (90+2'), Ndala menganulir gol Senegal yang dicetak Ismaila Sarr akibat dugaan pelanggaran Abdoulaye Seck kepada Achraf Hakimi.
Wasit tak memakai VAR untuk memastikan pelanggaran itu.
Namun, beberapa menit kemudian, Ndala gercep memberikan tendangan penalti buat Maroko dengan melihat VAR setelah El Hadji Malick Diouf menarik Brahim Diaz.
Baca Juga: Misteri Handuk Biru yang Diburu Maroko di Piala Afrika 2025, Jimat Senegal Juara?
Insiden yang terjadi pada menit ke-90+8 itu memicu kemarahan suporter.
Saat Diaz menghadapi bola di titik putih, pelatih Senegal, Pape Thiaw memerintahkan para pemainnya berhenti bermain dan kembali ke ruang ganti.
Aksi mogok ini baru berakhir setelah Sadio Mane memanggil rekan-rekannya untuk melanjutkan pertandingan.
Sepuluh menit terhenti, eksekusi Diaz pun dilanjutkan dan berakhir pilu baginya.
Tendangan ala Panenka dari playmaker Real Madrid itu ditangkap kiper Edouard Mendy.
Ihwal ajakannya mogok bermain, Thiaw mengaku bersalah dan melayangkan permintaan maaf kepada khalayak.
This is barbaric from Senegalese fans.
CAF come hard on them. #AFCON2025WithPooja pic.twitter.com/0bOXCsweok
— POOJA!!! (@PoojaMedia) January 18, 2026
"Dengan kepala dingin, saya sebenarnya tidak menyadari bahwa saya menyuruh para pemain untuk meninggalkan lapangan," ujar Thiaw.
"Saya meminta maaf kepada dunia sepak bola. Kemudian saya membawa mereka kembali."
"Terkadang kita bereaksi dalam panasnya situasi, dan tidak selalu dengan cara terbaik."
"Kami bertanya-tanya apakah ada penalti, dan apakah gol kami yang baru saja dibatalkan itu sah. Sekarang kami bisa menerima kesalahan wasit; itu bisa terjadi."
"Kami tidak seharusnya melakukannya, tapi begitulah adanya. Untuk itu, saya mengulangi permintaan maaf," katanya, dikutip dari Sportmediaset.
Dikecam FIFA
Namun, FIFA dan CAF telanjur kecewa dan merasa dipermalukan oleh insiden mogok main dan kericuhan di final tersebut.
Gawatnya, insiden ini terjadi di depan mata kepala Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang hadir di tribun.
"Adegan-adegan tidak pantas yang terjadi (di final Piala Afrika) harus dikecam dan tidak boleh terulang lagi."
"Tidak dapat diterima untuk meninggalkan lapangan permainan dengan cara seperti ini, dan sama halnya, kekerasan tidak boleh ditoleransi dalam olahraga kita. Benar-benar tidak pantas."
Presiden FIFA, Gianni Infantino (kanan), mendampingi Brahim Diaz saat menerima trofi top scorer Piala Afrika 2025. (ABDEL MAJID BZIOUAT/AFP)"Kita harus selalu menghormati keputusan yang diambil oleh wasit pertandingan di dalam dan di luar lapangan permainan."
"Tim harus bersaing di lapangan dan sesuai dengan Laws of The Game, karena apa pun yang terjadi di luar itu dapat mengancam esensi sepak bola."
"Saya berharap badan disiplin yang berwenang di CAF akan mengambil tindakan yang sesuai," tulis Infantino melalui akun Instagram.
Baca Juga: Maroko Tembus 8 Besar Dunia walau Patah Hati di Piala Afrika 2025, Vietnam Ikut Kena Dampaknya
Respons orang nomor satu FIFA secara langsung memindahkan wewenang kepada CAF agar menginvestigasi kekacauan di Rabat dan mempertimbangkan potensi sanksi bagi fan maupun timnas Senegal.
Pihak Maroko juga melayangkan tuntutan hukum kepada CAF dan FIFA terkait tindakan Senegal menghentikan permainan sepihak yang mereka anggap mengacaukan fokus pemain Maroko.
Jika investigasi membuahkan hasil, berbagai potensi sanksi terancam dijatuhkan kepada timnas Senegal.
Menurut laporan yang beredar, sanksi paling ringan bisa dimulai dengan denda, larangan disaksikan suporter, hingga paling gawat pencopotan gelar Piala Afrika 2025 dan pembatalan partisipasi di Piala Dunia 2026.
"CAF tegas mengecam segala perilaku tidak pantas yang terjadi selama laga, terutama yang menargetkan tim wasit atau panitia pertandingan."
"CAF sedang meninjau semua rekaman dan akan menyerahkan kasus ini kepada badan yang berwenang untuk mengambil tindakan sesuai terhadap mereka yang terbukti bersalah," tulis CAF.