Gelombang Pembatalan Tiket Piala Dunia 2026 di AS, Situasi Politik Jadi Sebab - Kompas
Gelombang Pembatalan Tiket Piala Dunia 2026 di AS, Situasi Politik Jadi Sebab

KOMPAS.com - Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, tanda-tanda kegelisahan mulai terasa.
Alih-alih antusiasme yang biasanya meningkat mendekati turnamen, ribuan calon penonton justru menarik diri.
Berbagai faktor, mulai dari kebijakan larangan perjalanan, kekhawatiran keamanan, hingga iklim politik di AS, membuat banyak fans membatalkan rencana hadir langsung ke stadion.
16.800 tiket dibatalkan dalam semalam
Gelombang pertama yang mengejutkan datang dari laporan Ticket News dan Roya News: sekitar 16.800 pemegang tiket membatalkan pesanan mereka hanya dalam semalam.
Jumlah ini muncul di tengah seruan boikot di media sosial, terutama dari pendukung internasional yang merasa tidak nyaman dengan situasi politik di AS saat ini.
Meski FIFA menerapkan kebijakan ketat “no-cancellation” untuk tiket yang sudah terjual, pembatalan ini kemungkinan besar terjadi pada fase ketiga penjualan, termasuk penarikan diri dari proses random draw atau pembatalan pembelian lewat organisasi anggota.
Kondisi ini membuat FIFA dilaporkan akan mengadakan rapat darurat untuk membahas isu keamanan, menurunnya komitmen pembeli tiket, serta kekhawatiran reputasi turnamen.
Banyak fans timnas negara lain tidak bisa masuk AS
Tidak berhenti di situ, sejumlah fans dari negara peserta ternyata menghadapi hambatan serius: travel ban yang diberlakukan pemerintah AS.
Kebijakan Presiden Donald Trump mencakup larangan penuh atau sebagian bagi lebih dari 30 negara, termasuk Iran, Haiti, Pantai Gading, dan Senegal, yang semuanya lolos ke Piala Dunia 2026.
Walaupun pemain serta staf tim mendapatkan pengecualian, ribuan pendukung tidak mendapatkan perlakuan serupa.

Bagi banyak suporter, kesempatan menyaksikan tim nasional beraksi di panggung dunia kini tampak menjauh.
“Kalau AS melarang pengunjung dari negara tertentu, seharusnya mereka tidak setuju menjadi tuan rumah Piala Dunia,” kata Djibril Gueye, suporter Senegal.
Beberapa fans seperti Sheikh Sy, yang selalu mengikuti tim Senegal ke mana pun, tetap bertekad mencari celah untuk masuk.
Namun sebagian lainnya, termasuk kelompok suporter perempuan Senegal, memilih menunggu sambil berharap kebijakan berubah sebelum turnamen dimulai.
Kekhawatiran dari pemain dan pelatih
Bukan hanya fans yang khawatir. Pelatih Pantai Gading, Emerse Faé, mengatakan bahwa larangan ini bisa merugikan pertandingan.
“Akan sangat disayangkan jika pendukung tidak bisa hadir,” ujar Faé, mengenang kasus serupa di Piala Afrika.
Menurut Faé, solusi masih mungkin dicapai, sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya: selama suporter dapat menunjukkan bukti tiket, mereka diizinkan masuk negara tuan rumah untuk menonton.
FIFA Pass: Solusi atau sekadar janji?
Menanggapi isu akses visa, Presiden Trump sempat mengumumkan sistem FIFA Pass, yang menjanjikan prioritas penjadwalan visa bagi pembeli tiket.
Lebih dari 400 petugas konsuler tambahan telah dikerahkan ke berbagai kedutaan untuk mempercepat proses.
FIFA menyambut baik sistem ini, namun hingga kini belum jelas apakah FIFA Pass akan cukup untuk mengatasi kebijakan larangan perjalanan yang lebih besar.
Antusiasme masih tinggi
Meskipun terjadi ribuan pembatalan, beberapa data menunjukkan permintaan tiket secara keseluruhan belum anjlok. Ticket Club mencatat bahwa minat global terhadap turnamen ini masih kuat.
Namun, gabungan faktor travel ban, ketidakpastian politik, protes, dan kekhawatiran keamanan jelas memunculkan tanda-tanda ancaman.
Situasi ini menguji kemampuan AS sebagai tuan rumah untuk memberikan rasa aman dan akses yang adil bagi semua pendukung.
Dengan pertandingan pertama semakin dekat, yakniHaiti vs Skotlandia pada 13 Juni, Pantai Gading vs Ekuador pada 14 Juni, Iran vs Selandia Baru pada 15 Juni, dan Senegal vs Prancis pada 16 Juni, ribuan fans di seluruh dunia masih menunggu kepastian:
Bisakah mereka benar-benar hadir untuk mendukung tim kesayangan mereka?