Ada Apa dengan Sirkuit Mandalika, Formula E, dan Aspal? Halaman all - Kompas
Ada Apa dengan Sirkuit Mandalika, Formula E, dan Aspal? Halaman all - Kompas.com
Oleh: Christian Gerald Daniel
Perhelatan MotoGP di sirkuit Pertamina Mandalika pada 20 Maret 2022 lalu telah menyedot perhatian global, dan menjadi kebanggaan kita bersama.
Dari segi ekonomi, biaya investasi besar yang telah dikeluarkan untuk pembangunan sirkuit ini terbayar dengan animo turis yang melonjak ke lokasi wisata Mandalika pada saat kegiatan MotoGP berlangsung.
Lebih jauh lagi, pihak MGPA selaku pengelola sirkuit memiliki target ambisius agar event Formula1 selaku ajang balap roda empat terakbar di dunia dapat berlangsung di Mandalika.
Tentu saja, kita sebagai bangsa Indonesia sangat mendukung agar niat baik itu bisa terlaksana demi kemajuan bangsa kita. Hanya saja, perlu ada perhatian khusus mengenai kualitas dari berbagai aspek terkait penyelenggaraan ajang balapan tersebut.
Beberapa hal yang menjadi sorotan publik mulai dari kualitas dan kuantitas transportasi umum yang menghubungkan sirkuit dengan lokasi strategis di sekitarnya yang belum memadai, serta kebersihan daerah tersebut.
Selain itu, kontroversi lain yakni mengenai kualitas aspal yang digunakan pada sirkuit Mandalika yang ternyata telah dikeluhkan bahkan sejak penyelenggaraan Superbike pada bulan November 2021.
Sejumlah pebalap secara terbuka mengeluhkan terkena kerikil yang beterbangan, dan ini tentu saja sangat berbahaya bagi para pembalap yang berkendara dengan kecepatan tinggi hingga lebih dari 300km/jam (Bola.com, 2022).
Pada kecepatan tersebut, benda yang menabrak mereka, terutama yang berukuran kecil dan tajam seperti kerikil, akan terasa seperti hantaman peluru tajam yang berpotensi menyebabkan cedera serius.
Salah satu artikel internasional bahkan telah mengangkat peristiwa ini dan menggambarkan bahwa telah terjadi kesalahan dalam desain, seperti penggunaan agregat yang tidak sesuai standar serta lapis permukaan yang kurang kuat (The Race, 2022).
Hal ini memaksa pihak penyelenggara dan kontraktor perlu melakukan pengaspalan kembali (overlay) sebelum penyelenggaraan MotoGP kemarin (Kompas.com, 2022).
Poin yang perlu kita pelajari dari pengalaman ini adalah, mengapa hal tersebut terjadi, serta bagaimana kita dapat menyikapi agar hal-hal ini dapat dihindari ke depannya?
Walau apa yang sebenarnya terjadi bersifat kompleks, tetapi kita dapat menggaris bawahi satu kemungkinan fenomena yang timbul untuk dapat menjawab pertanyaan tadi.
Peristiwa kerikil yang beterbangan dan terlepas dari permukaan jalan dikenal dengan istilah teknis “raveling”, yang mana adalah tipe kerusakan yang sering terjadi pada perkerasan jalan beraspal.
Istilah raveling sendiri menggambarkan peristiwa hilangnya kelekatan antar komponen pada campuran aspal, sehingga sedikit saja momentum dari kendaraan yang melintas di atasnya dapat menyebabkan setiap komponen campuran terlepas dan terbang (RoadBotics, 2019).
Raveling dapat disebabkan oleh setidaknya dua faktor, seperti komposisi campuran dan kualitas bitumen yang digunakan, serta pengaruh interaksi dengan air yang dapat menyebabkan fenomena stripping (pengelupasan) yang berujung pada raveling.
Suatu campuran aspal lazimnya memiliki beberapa komponen penyusun, yaitu kerikil dan pasir selaku agregat kasar dan halus yang menentukan kekuatan, serta kepadatan dalam campuran aspal.
Selain itu abu batu atau semen yang bertindak sebagai filler yang mengisi rongga dalam campuran aspal, serta bitumen atau aspal yang bertindak selaku perekat masing-masing komponen yang telah disebutkan.
Adapun tingkat kelekatan sangat dipengaruhi oleh kualitas bitumen selaku perekatnya, serta gradasi/komposisi campuran aspal yang diproduksi.

Sirkuit Mandalika sendiri diketahui menggunakan komposisi Stone Mastic Asphalt (SMA), yang memiliki ketahanan terhadap deformasi permanen yang tinggi karena didominasi oleh penggunaan kerikil berukuran besar dan tahan lama.
Akan tetapi, diperlukan kuantitas bitumen sebagai bahan perekat yang cukup, tidak terlalu banyak atau sedikit, untuk menghasilkan tingkat kelekatan yang cukup.
Hanya saja, penentuan kadar aspal yang sesuai untuk sirkuit balap dengan kebutuhan tinggi seperti Mandalika tentu saja tidak mudah, apalagi kebutuhan aspal untuk tipe SMA cenderung lebih besar dibandingkan campuran aspal standar.
Bitumen selaku bahan pelekat sendiri pun memiliki tingkat kekakuan yang lebih rendah pada suhu layan yang tinggi, yang juga adalah tantangan besar pada sirkuit Mandalika.
Maka, lazim digunakan bahan modifikasi agar perkerasan jalan yang dihasilkan lebih tahan lama.
Beberapa hal yang disarankan misalnya penggunaan bitumen/aspal yang dimodifikasi produk polimer (Polymer Modified Bitumen – PMB), serta bahan tambah lainnya seperti fiber yang dapat memperkuat ikatan dalam campuran aspal baik secara mekanis maupun melalui penyerapan bitumen.
Hasil penelitian penulis sebelumnya juga menggambarkan, penggunaan fiber terbukti sangat mempengaruhi perbaikan kualitas campuran aspal melalui peningkatan kemampuan berikatan/ adhesi (Apostolidis et al., 2020; Daniel, 2020; Daniel et al., 2019).
Selain masalah komposisi dan kualitas bitumen yang digunakan, masalah raveling juga disebabkan oleh interaksi dengan air yang dikenal dengan nama stripping (pengelupasan).
Air hujan yang tertahan pada permukaan sirkuit selama beberapa waktu dapat terserap masuk ke dalam lapisan aspal dan merusak ikatan kimia serta fisik antar komponen dalam campuran aspal melalui proses difusi dan ikatan kimia.
Hasilnya, tingkat kelekatan dalam campuran juga mengalami degradasi sehingga menjadi getas dan tidak mampu untuk mengikat agregat dan filler dan dapat menimbulkan keretakan, selain juga raveling.
Fenomena pengelupasan pun sebenarnya lazim kita temukan pada perkerasan jalan setelah terendam hujan dan banjir, dan menjadi masalah kita bersama karena terkait dengan keselamatan dan kenyamanan berkendara.
Untuk itu, perlu digunakan bahan tambah seperti antistripping untuk memperkuat ikatan adhesi dalam campuran aspal, sehingga dapat menghindari peristiwa tersebut.
Patut diingat, bahwa penggunaan bahan teknologi modifikasi ini tidak serta merta hanya untuk meningkatkan kekuatan saja, tetapi meningkatkan banyak aspek lain yang terkait dengan durabilitas perkerasan aspal.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa desain suatu perkerasan aspal merupakan hasil dari pemikiran dan perencanaan yang memiliki tingkat kompleksitas yang amat tinggi.
Untuk itu, diperlukan pemahaman yang komprehensif dari para pihak yang terlibat di dalamnya mengenai karakteristik setiap material yang digunakan.
Cukup disayangkan bahwa ternyata walaupun material/bahan tambah yang perlu digunakan sebenarnya telah coba diadopsi pada standar Bina Marga sebagai acuan, tetapi tingkat pemahaman akan standar tersebut masih kurang memadai.
Pengalaman penulis dalam memaparkan materi mengenai PMB melihat masih banyak informasi yang belum jelas tersampaikan mengenai teknologi tersebut. Alhasil, teknologi tersebut akhirnya belum diadopsi dengan maksimal.
Peristiwa MotoGP Mandalika tentu saja harus menjadi peringatan bagi semua pihak yang memiliki perhatian lebih pada rekayasa jalan raya, khususnya jalan aspal.
Kita perlu menyadari pentingnya memahami dan mengikuti standar yang telah ditetapkan, agar setiap produk yang dibuat memiliki standar kualitas sesuai target.
Lebih jauh lagi, harapannya agar semua teknologi baru ini dapat dipahami dengan baik, sehingga negara kita pun dapat memproduksi sendiri material berkualitas tinggi yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kita dalam jangka panjang.
Di sisi lain, para pihak yang terlibat dalam penyusunan standar teknis harus terus meningkatkan pemahaman dan selalu update akan perkembangan terbaru, sehingga standar yang dihasilkan selalu sesuai dengan tren perkembangan global dan menjamin mutu yang tinggi.
Kemudian, apa kaitan antara artikel ini dengan Formula E? Sederhana saja, pembangunan sirkuit ini sangat berkejaran dengan waktu, dan juga harus memenuhi standar yang telah disyaratkan.
Tentu saja kita berharap agar pekerjaan ini dapat berhasil dengan baik, dan tentu saja dapat menggunakan teknologi bermutu tinggi sesuai syarat yang ditetapkan.
Sehingga, membuktikan bahwa insinyur-insinyur Indonesia memiliki kompetensi tinggi dalam bidang rekayasa jalan raya, dan siap membangun infrastruktur jalan yang berkualitas internasional dan siap bersaing secara global.
Christian Gerald Daniel
Dosen Teknik sipil, Universitas Pelita Harapan
Awardee beasiswa LPDP, alumni TU Delft (The Netherlands)