0
News
    Home Tidak Ada Kategori

    European Super League Trending, UEFA Mengecam Habis, Benarkah Perlawanan Terhadap Mafia UEFA? - WARTAKOTALIVE.COM

    11 min read

    European Super League Trending, UEFA Mengecam Habis, Benarkah Perlawanan Terhadap Mafia UEFA?
    WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Sedang trending munculnya European Super League (ESL) atau Liga Super Eropa (LSE).
    ESL atau LSE baru saja diumumkan beranggptakan 12 tim besar Eropa.
    Mereka adalah Real Madrid, Barcelona, Atletico Madrid, Inter Milan, AC Milan, Juventus, Liverpool. Chelsea, Manchester City, Manchester United, Tottenham Hotspur, dan Arsenal.
    UEFA tidak setuju dengan ESL bahkan mengancam akan memberikan sanksi tegas.

    European Super League (ESL) trending karena melakukan pembentukan kompetisi sendiri di luar badan UEFA. ESL diduga sebagai bentuk protes atas mafia di UEFA. (Twitter)
    Berikut cuitan netizen atas trending European Super League dengan Florentino Perez diduga sebagai otaknya.
    Baca juga: Napoli vs Inter Milan Berbagi Angka 1-1, Napoli Gagal Salip Juventus di Zona Liga Champions
    Baca juga: Neymar Bertahan di PSG, Pastikan Tiket Semifinal Liga Champions Setelah Singkirkan Bayern Munich
    @Prakasa0: Tanpa kehadiran mereka UEFA bisa apa? Dukung European Super League
    @nikopurba: Suara publik sepakbola terpecah menanggapi pengumuman European Super League (ESL). Gila emang Don Agnelli
    @Rizqjo: European Super League, perlawanan dari para elit untuk para elit. Upaya pengerukan uang besar dari tambang rumput hijau. Menarik disimak kelanjutannya, mungkinkah ada kesepakatan model bisnis oleh kedua kubu elit ESL dan (UEFA dan cukongnya)
    @FaktaSepakbola: Dilansir dari @abc_deportes UEFA & Florentino Perez sempat setuju untuk ganti format UCL saja, dan tidak akan mengadakan European Super League. Tapi kemudian, diam-diam Perez mengajak 12 klub lain membuat ESL sendiri. El Mafisioso Del Escobarito Don Pablo Florentino Le Perez Wajah tersenyum berkacamata hitam
    Baca juga: IIMS Hybrid 2021 Hadirkan Promo Tiket Masuk dengan Swab Antigen dan GeNose
    @lutfiiardiva: ya kembali lagi ini semua karena MAFIA UEFA now i get it , European Super League
    @jerrpett: Wacana European Super League ada pro kontra- wajar. Yang ga wajar kenapa ada nama Arsenal disana ....
    @la14ard: European super league Vs champions league. Kayaknya dunia sudah mulai bercermin ke Indonesia. Kita tunggu sja kayaknya akan terjadi dualisme Akan muncul Ac Milan , Inter, juve, madrid Barca, liverpool , chelsea , Mu , Arsenal Versi ESL dan versi Champions League
    Baca juga: Mark Natama dan Rimar Callista Tampil di Grand Final Indonesian Idol Special Season, Siapa Terbaik?
    UEFA Mengecam ESL
    UEFA memastikan akan memberi sanksi tegas untuk tim yang nekat berpartisipasi dalam kompetisi European Super League atau Liga Super Eropa.
    European Super League saat ini sedang ramai dibacarakan setelah 12 tim elite Eropa dikabarkan sudah menyatakan siap untuk berpartisipasi.
    Dikutip dari situs BBC Sport, 12 tim itu berasal dari tiga negara, yakni Inggris, Spanyol, Italia.
    Tim Inggris yang dikabarkan sepakat mengikuti European Super League adalah Arsenal, Chelsea, Liverpool, Tottenham Hotspur, Manchester City, dan Manchester United.
    Adapun Atletico Madrid, Barcelona, dan Real Madrid, dikabarkan menjadi perwakilan Spanyol yang akan berpartispasi.
    Tiga tim terakhir berasal dari Italia, yakni Juventus, AC Milan, dan Inter Milan.
    Baca juga: BPAD DKI Jakarta Sesali Pembangunan Gudang Muara Angke, karena Belum Disetujui Anies Baswedan
    Perwakilan dari 12 tim tersebut dikabarkan melakukan pertemuan pada Minggu (18/4/2021) dengan hasil kesepakatan akan merilis European Super League atau Liga Super Eropa dalam waktu dekat.
    Meski kabar itu masih simpang siur dan 12 tim tersebut belum mengeluarkan pernyataan resmi, UEFA dengan tegas langsung memberi respons.
    Dalam keterangan resminya, UEFA bersama Asosisasi Sepak Bola negara terkait menyatakan akan menghukum tim dan pemain yang nekat mengikuti European Super League.
    Baca juga: Wakil Wali Kota Depok Imam Budi Hartono Mendadak Jadi James Bon untuk Bayar Kuliah (2-Habis)
    Setidaknya ada tiga hukuman yang akan telah disiapkan oleh UEFA, yakni:
    1. Denda dan dikeluarkan dari Asosiasi Sepak Bola negara asal sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi domestik.
    2. Larangan mengikuti kompetisi di bawah naungan UEFA dan FIFA.
    3. Pemain dilarang membela tim nasional negara masing-masing.
    Dalam keterangan resminya, UEFA juga mengucapkan terima kasih kepada tim dari negara-negara Eropa lain, khususnya Perancis dan Jerman, yang sudah menolak wacana Liga Super Eropa.
    Rumor 12 tim elite Eropa sepakat mengikuti European Super League dan kecaman dari UEFA ini tentu sangat menarik.
    Baca juga: Leo Soputan Legenda Persita Tangerang Meninggal Dunia Sehari Setelah Merayakan Ulang Tahunnya ke-45
    Sebab, keduanya muncul ke permukaan dan ramai dibicarakan satu hari sebelum UEFA menggelar kongres untuk membahas perubahan format Liga Champions.
    Apa Itu European Super League atau Liga Super Eropa?
    Wacana mengenai European Super League atau Liga Super Eropa sebenarnya sudah mulai terdengar sejak 2018.
    Beberapa klub elite Eropa dikabarkan ingin "membuat" kompetisi sendiri untuk menandingi Liga Champions.
    Salah satu tujuan dari pembentukan Liga Super Eropa yang kerap disebut adalah klub ingin meraup keuntungan lebih besar dari hak siar maupun iklan.
    Hingga saat ini, format European Super League sebenarnya masih simpang siur meskipun beberapa media Eropa sudah memberitakan hasil dari dokumen yang bocor.
    Baca juga: Kasatpol PP Bogor Biarkan Kerumunan di Megamendung, Hakim: Pimpinan Harus Cerdas Ambil Keputusan
    Dikutip dari situs Marca, Liga Super Eropa rencananya akan diikuti oleh 20 tim peserta dengan rincian 15 tim pendiri dan lima tim lainnya.
    Uniknya, 15 tim pendiri itu dipastikan terbebas dari degradasi.
    Adapun lima tim lainnya akan dirotasi bergantung pada performa.
    Total 20 tim tersebut kemudian akan dibagi ke dua grup yang berbeda untuk memainkan pertandingan kandang-tandang.
    Tiga tim teratas dari masing-masing grup nantinya akan lolos otomatis ke perempat final.
    Adapun dua slot perempat final lainnya akan diperebutkan oleh tim penghuni peringkat empat dan lima dari masing-masing grup.
    Baca juga: Band Armada Nyanyikan Hidup di Jalan-Nya di Bulan Ramadan, Ajakan Berbuat Baik Untuk Siapapun
    Setelah itu, Liga Super Eropa akan dilanjutkan dengan fase gugur yang menggunakan format kandang-tandang sampai tersisa dua tim finalis.
    Menurut situs Marca, jadwal pertandingan Liga Super Eropa akan dimainkan setiap tengah pekan, seperti layaknya Liga Champions.
    Terkait keuntungan finansial dari Liga Super Eropa, New York Times mengklaim setiap tim akan mendapatkan 400 juta dollar Amerika Serikat atau Rp 5,8 triliun hanya dari partisipasi.
    Angka itu empat kali lebih banyak dari hadiah yang dibawa pulang oleh tim pemenang Liga Champions musim 2019-2020.
    Dikutip dari situs ESPN, perusahaan asal Amerika Serikat, JP Morgan, dikabarkan siap mengucurkan dana sebesar enam miliar dollar AS atau sekitar Rp 87 triliun agar Liga Super Eropa bisa berjalan.
    Baca juga: Percepat Kesejahteraan Sosial, Mensos Tri Rismaharini: Perlu Data Basis Penginderaan Jauh
    Dikutip dari berbagai sumber, Liga Super Eropa dijadwalkan dimulai pada musim 2023-2024 jika sesuai dengan rencana.
    Tanggapan FIFA
    Melihat kegaduhan yang dibuat 12 tim elite Eropa dan UEFA, FIFA pada akhirnya buka suara.
    Pada intinya, FIFA juga tidak setuju dengan wacana Liga Super Eropa.
    Namun, berbeda dari UEFA, FIFA dalam keterangan resminya tidak mengeluarkan kebijakan apa pun.
    FIFA hanya meminta semua pihak untuk tenang dan berdialog lagi untuk menyelesaikan polemik Liga Super Eropa kali ini.
    Berikut adalah beberapa kutipan penting dari rilis resmi FIFA menanggapi polemik European Super League:
    Baca juga: Amanda Manopo Ikut Puasa, Senang Memasak Makanan Sahur dan Buka Puasa di Lokasi Syuting Ikatan Cinta
    "Melihat beberapa permintaan media dan seperti yang telah dikemukakan beberapa kali, FIFA ingin mengklarifikasi bahwa kami berpihak pada solidaritas dalam sepak bola dan model redistribusi yang adil. Sepak bola global adalah misi utama FIFA."
    "Dalam pandangan kami, dan sesuai dengan undang-undang yang ada, setiap kompetisi sepak bola, baik nasional, regional maupun global, harus selalu mencerminkan prinsip-prinsip inti solidaritas, inklusivitas, integritas, dan redistribusi keuangan yang adil."
    "Selain itu, badan sepak bola harus menggunakan semua cara yang sah, olahraga, dan diplomatik untuk memastikan segala prinsip itu bisa terjaga."
    "Atas latar belakang itu, FIFA hanya dapat menyatakan ketidaksetujuannya pada 'liga yang memisahkan diri dari Eropa' di luar struktur sepak bola internasional dan tidak menghormati prinsip-prinsip yang disebutkan di atas."
    Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "12 Tim Elite Disebut Ikut European Super League, UEFA Siapkan Sanksi Tegas",

    [Category Opsi Informasi, Olahraga, Sepak Bola, Sepak Bola Internasional]
    [Tags Featured, FIFA, UEFA, European Super League, Liga Super Eropa]
    Komentar
    Additional JS